Pustakawan UIN Ponorogo Ukir Prestasi dalam Program Penelitian MORA the AIR Funds Tahun 2025: Gelar FGD di Kabupaten Kediri

Kediri, 11 Juni 2025 — Dua pustakawan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo membuktikan bahwa profesi pustakawan memiliki peran penting dalam dunia riset dan pengabdian kepada masyarakat. Eny Supriati, S.IP., M.Pd. dan Alwan Wibawanto, S.Th.I., M.E., yang merupakan pustakawan ahli muda, turut menjadi bagian dari tim peneliti dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Pemberdayaan Perempuan Migran untuk Mewujudkan Kesejahteraan Keluarga di Jawa Timur”.

 

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Merdeka, Kabupaten Kediri ini merupakan bagian dari Program Penelitian MORA the AIR Funds Tahun 2025, yang didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Di bawah ketua peneliti Dr. Hj. Ely Masykuroh, SE., M.Si., tim peneliti melibatkan kolaborasi antara dosen Wahid Hariyanto, M.Pd.I., serta kedua pustakawan Eny Supriati, S.IP., M.Pd. dan Alwan Wibawanto, S.Th.I., M.E.

 

FGD ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kepala Dinas Tenaga Kerja, BP3MI Jatim, KPPA, LSM SuaR, perwakilan desa Desmigratif, serta akademisi dan aktivis sosial. Diskusi mengungkap beragam persoalan perempuan migran, dari literasi keuangan rendah, tantangan psikososial keluarga, hingga perlunya pendampingan menyeluruh pra dan pasca migrasi.

 

Ketua LPPM UIN Ponorogo, Dr. Nur Kolis, M.Ag., menyebut riset ini sebagai bentuk komitmen akademik terhadap isu sosial yang mendesak. Ketua LPPM UIN Syekh Wasil Kediri, Dr. Taufik Al Amin, M.Si., menekankan pentingnya memahami konteks lokal dan memperkuat ketahanan keluarga dalam setiap upaya pemberdayaan.

Diskusi berkembang saat narasumber Ibnu Imad, S.Sos Kepala Disnaker Kediri menyampaikan bahwa meski ada peningkatan kesejahteraan ekonomi, banyak keluarga PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang justru mengalami ketimpangan pendidikan, kekerasan, hingga penelantaran anak. “Pendidikan para pekerja banyak yang hanya lulusan SD, dan upaya mitigasi risiko sosial masih minim,” ungkapnya.

Dari data yang disampaikan, tercatat lebih dari 4.500 Pekerja Migran Indonesia (PMI) berasal dari Kediri selama 2021–2024, dengan dominasi perempuan yang bekerja di sektor domestik di lima negara utama: Taiwan, Hongkong, Brunei, Malaysia, dan Singapura.

Diskusi juga menyoroti inisiatif desa seperti Desmigratif di Kanigoro yang telah menunjukkan hasil ekonomi nyata, meski masih dihadapkan pada tantangan sosial seperti keretakan keluarga dan anak-anak tanpa pengasuhan. Kepala Desa Duwet menegaskan perlunya perhatian terhadap realitas pahit sebagian PMI yang kembali tanpa hasil dan mengalami krisis rumah tangga.

 

LSM SuaR dan P2MI Tulungagung menambahkan perlunya pendekatan penta helix antara pemerintah, perguruan tinggi, swasta, masyarakat, dan media untuk menciptakan perlindungan dan pemberdayaan PMI yang komprehensif dan berkelanjutan.

 

Keikutsertaan pustakawan dalam program riset bergengsi ini menjadi tonggak penting dalam pengakuan atas kapasitas pustakawan sebagai mitra strategis dalam penelitian multidisipliner. Eny Supriati dan Alwan Wibawanto tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam pengelolaan informasi, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pemetaan isu-isu sosial, dan pemberdayaan perempuan migran, sebuah peran yang selama ini jarang disorot dalam dunia kepustakawanan.

“Ini adalah bentuk nyata bahwa pustakawan bukan hanya penjaga buku, tetapi penjaga ilmu dan agen perubahan sosial,” ungkap Eny Supriati. Sementara itu, Alwan menambahkan bahwa kolaborasi lintas disiplin antara akademisi dan pustakawan dapat membuka ruang-ruang baru bagi inovasi sosial dan pemberdayaan masyarakat.

 

Pencapaian ini sekaligus menjadi inspirasi bagi pustakawan di seluruh Indonesia, bahwa keterlibatan dalam riset dan kegiatan akademik berskala nasional bukanlah hal yang mustahil. Bahkan, pustakawan memiliki potensi besar dalam menjembatani antara informasi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam konteks pembangunan kesejahteraan keluarga dan penguatan peran perempuan migran.

UIN Ponorogo melalui langkah ini juga menegaskan komitmennya dalam mendorong peran aktif seluruh sivitas akademika, termasuk pustakawan, dalam menjawab tantangan sosial dan membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan. (ES)