Jakarta, 3 Februari 2026. Tim pustakawan Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melakukan kunjungan kelembagaan ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Rombongan dipimpin oleh Kepala Perpustakaan UIN Ponorogo, Dr. H. Kardi, S.Ag., S.S., M.Hum., bersama Eny Supriati, M.Pd., Dwi Eliana Sari, S.IP., Sirojudin Ahmad, M.H., Ali Mustofa, S.E., M.E., Karis Wiliyantoro, S.Kom., dan Saiqul Fata. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Deputi I Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas RI, Suharyanto, S.Sos., M.Hum. beserta jajaran unit kerja terkait.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. H. Kardi menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk belajar langsung dari Perpustakaan Nasional RI. Ia menyatakan, “Kami ingin melihat perkembangan layanan di Perpustakaan Nasional, termasuk kreasi dan inovasi yang dilakukan Perpusnas dalam menyikapi kunjungan perpustakaan yang menurun, dan bagaimana hal itu bisa direalisasikan di UIN Ponorogo.” Selain itu, ia juga menegaskan bahwa Perpustakaan UIN Ponorogo saat ini tengah mengembangkan digitalisasi manuskrip. “Kami juga mengembangkan digitalisasi manuskrip, sehingga ingin belajar regulasinya langsung dari Perpusnas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Kardi menambahkan bahwa pihaknya ingin mempelajari perkembangan repository di Perpustakaan Nasional RI sebagai pusat integrasi repository di Indonesia. “Apa yang kami dapatkan dari Perpusnas akan kami terapkan dan kembangkan di Perpustakaan UIN Ponorogo,” jelasnya. Ia juga menyinggung potensi kerja sama pengembangan koleksi dan layanan literasi di daerah tertinggal. “Kami melihat ada potensi pengembangan koleksi di daerah tertinggal dengan pendekatan literatif, dan mungkin ada dukungan dari Perpusnas, termasuk layanan kendaraan perpustakaan keliling,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Deputi I Perpusnas RI, Suharyanto, S.Sos., M.Hum, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Tim Pustakawan UIN Ponorogo. “Dari Perpustakaan Nasional kami mengucapkan terima kasih dan menyampaikan salam dari Kepala Perpustakaan Nasional,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa pertemuan ini dihadiri oleh tiga unit kerja, yaitu Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Pengelola Perpustakaan dan Naskah Kuno, serta Direktorat Deposit dan Pengembangan Koleksi.
Suharyanto juga memaparkan arah kebijakan Perpusnas pada periode 2025–2026. “Tahun 2025–2026 Perpustakaan Nasional mengusung tema ‘Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa’ dengan tiga prioritas program utama, yaitu penguatan budaya baca dan kecakapan literasi, pengarusutamaan naskah Nusantara, serta akreditasi dan standarisasi,” jelasnya. Menurutnya, pertemuan ini merupakan bagian dari penerapan program utama penguatan budaya baca dan kecakapan literasi melalui pengembangan perpustakaan digital.
Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto juga menyampaikan tantangan yang dihadapi Perpusnas pada tahun 2026 akibat efisiensi anggaran. “Tahun 2026 Perpusnas mendapatkan penghematan anggaran. Dari semula hampir 600–700 miliar rupiah, kini menjadi sekitar 377 miliar rupiah. Imbasnya, beberapa kegiatan harus berhenti, termasuk akuisisi koleksi. Tahun 2026 tidak ada pembelian buku, jurnal, dan majalah terbaru sehingga belum bisa menyediakan koleksi mutakhir,” terangnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Perpusnas terus berupaya melakukan penjajakan peningkatan koleksi melalui rapat dan komunikasi dengan DPR.
Sebagai pusat rujukan nasional, Perpusnas tetap menjalankan fungsi kerja sama dan jejaring. “Di tahun 2026 kami menjalankan program Bhakti Perpusnas, salah satunya setiap hari Senin pegawai Perpusnas melakukan KDM (Kerja di Mana Pun), tidak ke kantor, tetapi melakukan pembinaan langsung ke perpustakaan di wilayah Jabodetabek,” jelas Suharyanto. Selain itu, di lingkungan Deputi I juga terdapat sejumlah unit strategis, antara lain Direktorat Deposit dan Pengembangan Koleksi, Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Pusat Bibliografi dan Pengolahan Bahan Perpustakaan, serta Pusat Preservasi dan Alih Media Bahan Perpustakaan.
Suharyanto juga memperkenalkan inovasi layanan Perpusnas, salah satunya PUSPA PEMUSTAKA (Pustakawan Menyapa Pemustaka). “Setiap satu minggu sekali kami melakukan pembinaan melalui Zoom Meeting, berupa diseminasi, promosi, dan diskusi dengan berbagai perpustakaan. Program ini sudah berjalan selama dua tahun dan kini memasuki seri keempat,” ujarnya. Selain itu, Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara juga menyediakan layanan bimbingan pemustaka daring. “Kita bisa berkolaborasi dalam bimbingan penggunaan koleksi digital Perpusnas dan saling berbagi pengetahuan, bisa dilakukan sewaktu-waktu melalui permintaan resmi,” tambahnya.
Terkait pemanfaatan koleksi digital, Suharyanto memaparkan data penggunaan layanan Perpusnas tahun 2025. “Indonesia OneSearch menjadi layanan dengan pengunjung tertinggi, yaitu 6.303.023 pemustaka. Selanjutnya BintangPusnas Edu sebanyak 3.759.611 pemustaka, OPAC Perpusnas 2.125.619 pemustaka, Portal Perpusnas 1.978.000 pemustaka, dan e-resources Perpusnas sebanyak 1.322.000 pemustaka,” paparnya.
Terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Perpustakaan Nasional RI disampaikan bahwa hingga saat ini belum terdapat kebijakan regulatif resmi yang mengatur penerapan AI. Meskipun demikian, secara teknis AI telah mulai diterapkan pada layanan Indonesia OneSearch melalui fitur pencarian cerdas dan AI overview. Namun, implementasi AI tersebut masih bersifat terbatas dan baru tercantum dalam roadmap pengembangan Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) Perpusnas. Indonesia OneSearch sendiri merupakan layanan unggulan Perpusnas yang berfungsi sebagai pusat integrasi seluruh repository digital yang telah online di Indonesia, sehingga sering dianalogikan sebagai “Google mini” versi perpustakaan nasional.
Dalam diskusi, Dr. H. Kardi juga mengusulkan agar Perpustakaan Nasional RI dapat menginisiasi pengadaan akses Scopus yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas. “Kami mengusulkan agar Perpusnas dapat menyediakan akses Scopus yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya untuk mendukung riset dan publikasi ilmiah di perguruan tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, Eny Supriati, M.Pd. secara khusus menanyakan regulasi dan tata kelola pengelolaan naskah kuno di Perpusnas RI. “Kami ingin mengetahui regulasi pendaftaran koleksi naskah serta bagaimana pengelolaan naskah kuno yang sesuai dengan standar Perpustakaan Nasional, kemudian bagaiman praktik dan model akses bagi kita” tanyanya. Menanggapi hal tersebut, pihak Perpusnas RI menjelaskan bahwa pendaftaran dan pendataan koleksi naskah dapat dilakukan melalui platform KASTARA sebagai sistem resmi Perpusnas dalam pengelolaan dan registrasi naskah.
Sebagai penutup, Suharyanto menegaskan bahwa kunjungan Tim Pustakawan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo merupakan bagian dari implementasi program utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yaitu penguatan budaya baca dan kecakapan literasi melalui pengembangan perpustakaan digital. Menurutnya, pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi kelembagaan, tetapi juga sebagai ruang berbagi praktik dan pengalaman dalam pengelolaan layanan perpustakaan digital yang berorientasi pada peningkatan kualitas literasi informasi di masyarakat. (ES)
