Ponorogo, 8 Oktober 2026 — Perpustakaan Kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menerima kunjungan akademik delegasi Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya (APIUM), Malaysia, dalam rangkaian program edutourism dan seminar internasional bertema “Strengthening Halal Literacy: Digital Fiqh to Address the Challenges of Modern Society.” Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengembangan layanan perpustakaan berbasis digital sekaligus memperluas wawasan mahasiswa internasional mengenai layanan informasi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia.
Kegiatan kunjungan perpustakaan dibuka oleh Kepala Pusat Kerja Sama Luar Negeri dan Studi Kawasan pada Lembaga Penjamin Mutu UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Dr. Kharisul Wathoni, M.Pd.I. Selanjutnya, Kepala Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Kardi, M.Hum., menyambut delegasi dan memperkenalkan profil perpustakaan, sumber daya pustakawan, jenis layanan, serta jam operasional perpustakaan. Ia juga menjelaskan keterlibatan perpustakaan dalam jejaring kerja sama perpustakaan perguruan tinggi, di antaranya Forum Kerja Sama Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri (FKP2TN), Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS), dan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI).
Selain pimpinan perpustakaan, kegiatan ini juga dihadiri oleh pustakawan, yaitu Eny Supriati, S.IP., M.Pd., Saiqul Fata, dan Nurjanah, SH., serta Ketua Unit Bahasa, Dr. Prylla Rochmawati, M.Pd., dan dosen Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam Dr. Nur Mahmudah. Kehadiran pustakawan dan dosen tersebut memperkuat suasana akademik dalam kunjungan, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan layanan perpustakaan dan lingkungan pembelajaran UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kepada delegasi Universiti Malaya. Pertemuan ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman dan wawasan mengenai pemanfaatan sumber informasi digital, penguatan literasi akademik, serta peluang pengembangan kolaborasi pendidikan dan penelitian lintas perguruan tinggi.
Dalam sesi pengenalan layanan, delegasi Universiti Malaya mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan sumber informasi elektronik (e-resources) untuk mendukung kebutuhan pembelajaran, penelitian, dan penulisan akademik. Tim perpustakaan juga memperagakan layanan digital e-Theses dan UIN Libzone. Pengenalan ini memberikan gambaran tentang upaya perpustakaan dalam memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses informasi, mempermudah penelusuran sumber akademik, serta mendukung sivitas akademika dalam mengakses layanan perpustakaan secara lebih fleksibel.
Antusiasme mahasiswa Universiti Malaya tampak dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Salah seorang mahasiswa, Meor Hamzi bin Meor Ismail, mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan mengakses koleksi Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dari Malaysia. Pertanyaan tersebut mencerminkan ketertarikan delegasi terhadap pengembangan layanan perpustakaan berbasis digital serta peluang pemanfaatan sumber informasi akademik lintas negara. Diskusi ini sekaligus menjadi ruang berbagi wawasan mengenai peran perpustakaan perguruan tinggi dalam mendukung kebutuhan informasi, pembelajaran, dan penelitian di era digital, yang semakin memungkinkan kolaborasi akademik tanpa dibatasi oleh jarak geografis.
Sementara itu, Aneesa Sofhia binti Afian, mahasiswa Universiti Malaya, menyampaikan kesan positif atas kesempatan berkunjung ke UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut menjadi pengalaman yang berharga karena memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik, layanan perpustakaan, serta berbagai upaya yang dilakukan perguruan tinggi dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan penelitian mahasiswa. Kunjungan ini juga membuka wawasan mengenai pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses terhadap sumber informasi ilmiah. Pengalaman tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan akademik antara Universiti Malaya dan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sekaligus membuka peluang pertukaran pengetahuan dan kerja sama di bidang pendidikan, literasi informasi, dan pengembangan layanan perpustakaan pada masa mendatang.
Kunjungan tersebut juga dihadiri dosen dari Universitas Darussalam Gontor, yakni Yusifa Tariful Mujiana Khariyah, Faricha Nailun Ni’mah, dan Wildan Rosyidi. Kehadiran para pendamping dan peserta dari berbagai lingkungan akademik menambah ruang pertukaran pengalaman mengenai pengembangan layanan pendidikan, literasi informasi, serta pemanfaatan teknologi di perguruan tinggi.
Perwakilan program edutourism Universiti Malaya menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Dalam pesan apresiasinya, perwakilan tersebut menyatakan, “Berterima kasih banyak atas segala sambutan yang luar biasa bagi program edutourism Universiti Malaya. Sambutan yang sangat hangat memberikan kesan baik kepada peserta. Semoga kunjungan ini membawa cerita dan kesan indah tentang kampus yang berada di Indonesia, serta ke depannya bisa menjadi kolaborasi yang lebih baik lagi.”
Bagi Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, kunjungan ini bukan sekadar agenda menerima tamu, melainkan juga kesempatan memperkenalkan transformasi layanan informasi kepada komunitas akademik internasional. Pengembangan layanan digital seperti e-Theses dan UIN Libzone menjadi bagian dari upaya perpustakaan untuk merespons kebutuhan pengguna yang semakin beragam dan dinamis. Melalui pemanfaatan teknologi, perpustakaan terus berupaya memperkuat perannya sebagai pusat sumber belajar dan pengetahuan yang mendukung pendidikan, penelitian, serta kolaborasi akademik.
Pengembangan layanan tersebut juga sejalan dengan semangat perpustakaan yang berorientasi pada akses informasi, partisipasi pengguna, integrasi layanan digital dan tatap muka, serta kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika. Dalam perspektif pengembangan layanan inklusif, pendekatan ini dapat diperkuat melalui lima pilar, yaitu inovasi teknologi, partisipasi komunitas, integrasi layanan hibrid, kebijakan adaptif, dan inklusi budaya. Kelima pilar tersebut menegaskan bahwa perpustakaan modern tidak hanya dituntut menyediakan koleksi, tetapi juga membangun lingkungan layanan yang mudah diakses, responsif, dan menghargai keberagaman pengguna.
Melalui kunjungan delegasi Universiti Malaya ini, Perpustakaan Kampus 2 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo berharap dapat memperluas jejaring internasional, meningkatkan pengenalan terhadap layanan digital yang dimiliki, serta membuka peluang kolaborasi berkelanjutan dengan perguruan tinggi mitra. Pertemuan ini menjadi langkah positif dalam memperkuat posisi perpustakaan sebagai bagian penting dari ekosistem akademik yang terbuka terhadap perkembangan teknologi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas negara. (ES)
