Jakarta, 15–16 April 2026 – Pustakawan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menjalin kolaborasi dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui kegiatan perjalanan dinas dalam rangka studi banding layanan perpustakaan inklusif. Kegiatan ini dilaksanakan di UPT Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang beralamat di Jl. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Pelaksanaan kegiatan riset ini merupakan bagian dari upaya strategis dalam meningkatkan mutu pengelolaan layanan perpustakaan inklusif di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), khususnya di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, melalui penguatan sinergi kelembagaan, pertukaran pengalaman, serta adopsi praktik terbaik dalam penyelenggaraan layanan perpustakaan yang efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan seluruh pemustaka.
Tujuan utama kegiatan ini meliputi: melakukan kajian komparatif terhadap implementasi layanan perpustakaan inklusif antara UIN Ponorogo dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; mengidentifikasi berbagai strategi, inovasi, dan kebijakan dalam pengelolaan layanan yang mendukung aksesibilitas; meningkatkan kualitas manajemen layanan perpustakaan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna; memperluas jejaring kerja sama antar PTKIN; serta mendukung pencapaian visi dan misi perguruan tinggi melalui penguatan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang inklusif dan berkelanjutan.
Tim dari UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari bersama Eny Supriati, S.IP., M.Pd. ustakawan Ahli Madya dan Irma Rumtianing Uswatul Hanifah, M.S.I. Kepala Pusat Gender, Anak, dan Inklusi Sosial LPPM. Kehadiran tim riset disambut secara hangat oleh Kepala Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Agus Rifai, Ph.D., beserta jajaran pustakawan, yaitu Heru, Yana, Ahmad Nawawi, dan Maryulisman. Suasana penyambutan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan dan profesionalitas, mencerminkan semangat kolaboratif antar pengelola perpustakaan PTKIN.
Dalam sesi diskusi kelembagaan, tim dari UIN Ponorogo menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan serta menegaskan pentingnya pengembangan layanan perpustakaan inklusif yang ramah disabilitas. Hal ini selaras dengan kebijakan nasional, khususnya ratifikasi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan pembahasan yang komprehensif, mencakup aspek manajemen organisasi, penguatan infrastruktur layanan, efisiensi layanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kerja sama, serta strategi publikasi layanan kepada pemustaka.
Lebih lanjut, dibahas pula implementasi layanan inklusif yang telah dikembangkan di perpustakaan, antara lain layanan sirkulasi inklusif, layanan referensi inklusif, layanan internet inklusif, serta upaya membangun kesadaran inklusi di lingkungan akademik. Aspek manajerial juga menjadi perhatian utama, meliputi identifikasi misi layanan, pengelolaan ekspektasi pengguna, edukasi layanan kepada pemustaka, pengukuran dan pembuktian kualitas layanan, pengembangan mutu layanan, serta evaluasi secara berkelanjutan.
Kepala Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Agus Rifai, Ph.D., menyampaikan bahwa pengembangan layanan perpustakaan inklusif telah menjadi bagian dari kebijakan strategis kelembagaan yang terintegrasi dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) pimpinan. Implementasi kebijakan tersebut tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga diinternalisasikan dalam kinerja pustakawan melalui sistem e-kinerja, sehingga seluruh pustakawan memiliki peran aktif dalam mewujudkan layanan yang inklusif.
Beliau menegaskan, “Pengembangan layanan inklusi perpustakaan sudah tertuang dalam IKU pimpinan, sehingga harus diintervensi dan diimplementasikan oleh seluruh pustakawan melalui kinerja masing-masing, termasuk dalam sistem e-kinerja.” Ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan library tour yang memberikan gambaran nyata mengenai implementasi layanan perpustakaan inklusif di lapangan. Dari hasil observasi dan diskusi, diperoleh informasi bahwa pengembangan layanan inklusif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah mulai diintegrasikan ke dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) pimpinan, sehingga menjadi bagian dari kinerja kelembagaan yang didukung oleh seluruh pustakawan. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, antara lain keterbatasan kompetensi SDM dalam mengoperasikan fasilitas inklusif, belum optimalnya pemanfaatan koleksi ramah disabilitas, serta keterbatasan kemampuan komunikasi seperti bahasa isyarat.
Salah satu pustakawan, Ibu Yana, menyampaikan bahwa pihak perpustakaan sebenarnya telah memiliki komitmen untuk menjalin kerja sama dengan organisasi penyandang disabilitas sebagai bagian dari penguatan layanan inklusif. Namun demikian, hingga saat ini rencana tersebut masih berada pada tahap wacana dan belum direalisasikan secara optimal, sehingga diperlukan tindak lanjut yang lebih konkret ke depan. Beliau menyampaikan, “Kami sebenarnya sudah memiliki komitmen untuk menjalin kerja sama dengan organisasi disabilitas, namun sejauh ini masih dalam tahap wacana. Ke depan, hal ini perlu segera kami tindak lanjuti agar pengembangan layanan inklusi dapat berjalan lebih optimal.” Ujar Yana.
Artinya, rencana kerja sama dengan organisasi penyandang disabilitas telah diinisiasi, meskipun masih memerlukan tindak lanjut yang lebih konkret. Jumlah pemustaka penyandang disabilitas yang relatif terbatas juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi optimalisasi layanan inklusif yang tersedia. Kendati demikian, terdapat komitmen yang kuat dari pihak perpustakaan untuk terus mengembangkan layanan inklusif secara bertahap dan berkelanjutan.
Bapak Maryulisman, menyampaikan bahwa implementasi layanan perpustakaan inklusif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta masih belum berjalan secara optimal. Meskipun perpustakaan telah memiliki beberapa koleksi yang ramah bagi penyandang disabilitas, pemanfaatannya belum maksimal. Hal ini terutama disebabkan oleh keterbatasan kompetensi sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam pengoperasian sarana dan prasarana pendukung layanan inklusif serta keterampilan komunikasi seperti bahasa isyarat.
Beliau menyampaikan, “Layanan inklusi di perpustakaan kami sebenarnya sudah mulai dikembangkan, termasuk penyediaan koleksi ramah difabel. Namun, pemanfaatannya belum optimal karena masih ada keterbatasan SDM, terutama dalam penggunaan fasilitas yang ada dan kemampuan bahasa isyarat. Ini menjadi tantangan yang perlu kami perkuat ke depan.” Ungkapnya.
Pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Maryulisman tersebut turut diperkuat oleh Bapak Heru dan Ibu Yana, yang menyatakan bahwa kondisi layanan inklusif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memang masih menghadapi berbagai keterbatasan. Selain faktor SDM, jumlah mahasiswa penyandang disabilitas yang terdata dan terlayani juga masih relatif terbatas, sehingga optimalisasi layanan inklusif belum sepenuhnya berjalan.
Mereka juga menyampaikan bahwa terdapat pengalaman dalam melayani mahasiswa dengan kebutuhan khusus, seperti mahasiswa dengan hambatan penglihatan, namun layanan yang diberikan masih bersifat situasional dan belum terstandar secara sistematis. Disampaikan bahwa, “Apa yang disampaikan Mas Maryulis memang benar, kondisi layanan inklusi kami masih dalam tahap pengembangan. Jumlah mahasiswa penyandang disabilitas juga belum banyak dan belum semuanya teridentifikasi secara optimal. Kami pernah melayani mahasiswa dengan hambatan penglihatan, namun layanan yang diberikan masih bersifat terbatas dan belum terstandarisasi.”
Berdasarkan hasil kunjungan dalam rangka pengembangan layanan perpustakaan inklusif ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan studi banding memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam memperkaya wawasan, memperluas perspektif, serta memperkuat kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan layanan perpustakaan yang inklusif. Berbagai praktik baik (best practices), pengalaman empiris, serta dinamika implementasi yang diperoleh selama kegiatan menjadi pembelajaran strategis dalam upaya peningkatan mutu layanan perpustakaan.
Hasil kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi referensi konseptual, tetapi juga dapat diimplementasikan secara konkret dalam perumusan kebijakan dan strategi pengembangan layanan perpustakaan di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Dengan demikian, perpustakaan diharapkan mampu berkembang menjadi pusat sumber belajar yang lebih inklusif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan seluruh pemustaka, termasuk penyandang disabilitas, serta berkontribusi secara nyata dalam mendukung pencapaian visi dan misi perguruan tinggi.
