Jakarta, 4 Maret 2026. Perpustakaan UIN Jakarta dan Perpustakaan UIN Ponorogo menyelenggarakaan kolaborasi Webinar Gema Literasi Ramadhan 1447 H mengusung tema “Jendela Ilmu, Pintu Ibadah: Menemukan Hikmah Ramadhan melalui Literasi”. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Heru Widodo, S.IP., pustakawan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Maryulisman, S.IP., yang juga merupakan pustakawan dari UIN Jakarta.
Webinar ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang institusi di Indonesia. Peserta hadir dari beragam kalangan, mulai dari perguruan tinggi, sekolah, lembaga pemerintah, hingga komunitas literasi, di antaranya UIN Imam Bonjol Padang, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Negeri Makassar, Universitas Andalas, Universitas Prima Indonesia, Universitas Islam Negeri Madura, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Universitas Sebelas Maret, serta pesertaa dari sejumlah instansi seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, berbagai dinas perpustakaan dan kearsipan daerah, sekolah menengah, serta lembaga pendidikan lainnya. Kehadiran peserta lintas institusi ini menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap penguatan budaya literasi serta pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam sambutannya Agus Rifai S.Ag., S.S., M.Ag., Ph.D. Kepala Perpustakaan UIN Jakarta mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang memadati ruang virtual webinar. Ia menegaskan bahwa literasi dan ibadah di bulan Ramadhan harus berjalan beriringan dan tidak berhenti pada aspek seremonial. “Ramadhan adalah momentum untuk menyelaraskan kekuatan spiritual dan intelektual. Perintah pertama dalam Islam adalah iqra’. Itu artinya, kualitas ibadah kita tak bisa dilepaskan dari kualitas bacaan dan pengetahuan kita,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Dr. H. Kardi, M.Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah bersama untuk memperkuat budaya literasi di perguruan tinggi. “Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam upaya menumbuhkan budaya baca dan literasi akademik di lingkungan kampus,” tegasnya.
Suherman, pustakawan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pegiat literasi, hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali spirit iqra’ dalam kehidupan umat Islam. Ia menyampaikan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi bagian dari kewajiban keagamaan. Ia juga menambahkan pentingnya kerja sama multipihak, penguatan kajian literasi di kampus, sekolah, dan masjid, serta menjadikan membaca buku sebagai bagian dari ibadah harian.
Dalam paparannya, Suherman turut menyoroti revitalisasi masjid sebagai pusat literasi sebagaimana pada masa Rasulullah SAW. “Masjid hari ini bisa memiliki perpustakaan mini atau pojok baca, mengadakan klub baca atau bedah buku, bahkan program ‘Satu Buku Satu Bulan’ untuk jamaah,” ungkapnya. Ia juga mendorong reformasi sistem pendidikan Islam dengan menjadikan perpustakaan sebagai jantung sekolah dan perguruan tinggi. “Metode hafalan harus diperkuat dengan diskusi dan riset. Perpustakaan perguruan tinggi harus menjadi pusat kaderisasi pegiat literasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Suherman menegaskan bahwa Gerakan Budaya Baca perlu diperkuat melalui pendekatan struktural dan kultural. Dari sisi struktural, pemerintah dan lembaga pendidikan harus menghadirkan sistem literasi yang terarah. “Pemerintah bertanggung jawab menetapkan regulasi dan kebijakan literasi nasional yang terintegrasi serta menyediakan dukungan anggaran yang memadai untuk memastikan keberlanjutan Gerakan Budaya Baca,” tegas Suherman. Kemudian di tingkat sekolah, target membaca harus terukur. “Setiap satuan pendidikan wajib menetapkan target membaca sesuai jenjang dan membuat review buku sebagai bentuk evaluasi pemahaman,” jelasnya.
Sementara itu, pendekatan kultural menempatkan keluarga sebagai fondasi utama. “Budaya baca harus dimulai dari rumah sebagai fondasi utama pembentukan karakter literasi anak. Orang tua harus menjadi teladan dalam membaca,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus media sosial. “Di tengah arus media sosial yang sangat masif, masyarakat harus mengedepankan sikap tabayyun dan memperkuat literasi digital agar tidak mudah terjebak informasi yang tidak kredibel,” pungkasnya.
Webinar yang berlangsung hangat dan interaktif ini ditutup oleh Eny Supriati, S.IP., M.Pd., pustakawan dari UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo selaku moderator. Dalam penutupannya, ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarperguruan tinggi dalam membangun ekosistem literasi yang kuat, sistematis, dan berkelanjutan, sekaligus menjadikan Ramadhan sebagai ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan ibadah. (ES)
